POSTING

Jika ingin memberi komentar blog ini mohon kirimkan naskah/ komentar ke

Selasa, 30 Maret 2010

KISAH KELUARNYA BANGSA ISRAEL DARI MESIR KE KANAAN 1

Pelajaran Typologi
Kisah keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir menuju ke Tanah Perjanjian Kanaan, yang memakan waktu selama 40 tahun berputar-putar di padang gurun dengan Musa sebagai pemimpin mereka, sudah tidak asing lagi bagi kita. Tetapi apakah pembaca mengetahui bahwa kisah keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir dan perjalanan panjang yang luar biasa itu, juga merupakan sebuah pelajaran typology yang menarik dan mempunyai makna rohani tentang perjalanan kehidupan rohani kita? Kali ini kami mengajak bapak/ ibu/ sdr tercinta untuk merenungkan, mendalami dan menikmati kebesaran rencana penyelamatan Tuhan melalui kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir.

Tanah Mesir
Tanah Mesir terletak dekat sungai Nil, yang terdiri dari dua bagian: sebelah utara yang disebut Delta Nil atau Mesir Bawah dan sebelah selatan disebut Mesir Atas. Tanah Mesir merupakan salah satu tempat peradaban manusia yang tertua dan menarik di permukaan bumi ini. Peradaban mesir ditandai dengan banyaknya bangunan, patung pahatan dan pyramid-piramid yang termasuk dalam urutan pertama tujuh keajaiban dari dunia purba. Kesuburan tanah di sepanjang pantai Sungai Nil membuat tanah Mesir melimpah dengan hasil pertaniannya. Dengan adanya pembangunan kota, seni pahat patung, pertanian yang berhasil dan aktivitas kehidupan keagamaan yang ditandai dengan penyembahan kepada Dewa Matahari Re, Dewa Seniman Ptah, Dewa Dunia Kekekalan Osiris dan istrinya Dewi Isis sebagai Dewi Kesuburan dan anak mereka Horus sebagai Dewa Terbitnya Matahari dan dewa-dewa lainnya, maka lengkaplah sudah Mesir sebagai pusat peradaban manusia yang tertinggi pada masa itu. Itulah sebabnya Mesir seringkali ditafsirkan oleh para ahli Alkitab sebagai perlambang dari “dunia”, dimana terjadi segala macam aktivitas manusia termasuk perbuatan-perbuatan dosa yang dibenci Tuhan.
Mengapa sampai bangsa Israel ada di Mesir? Pada awalnya Abraham dibawa oleh ayahnya, yaitu Terah, dari Ur-Kasdim pindah ke Kanaan (Kej 11:31). Terah meninggal di Haran dalam perjalanan ke Kanaan (Kej 11:32). Sesuai perintah Tuhan, Abraham meneruskan perjalanannya ke Kanaan, akhirnya menetap di Negeb. Karena terjadi kelaparan, Abraham pergi ke Mesir, namun ia kembali lagi ke tanah Negeb. Abraham memperanak Ishak dan kemudian Ishak memperanak Yakub (Israel). Pada zaman Yakub inilah kembali terjadi masa kelaparan yang hebat selama 7 tahun. Akhirnya keluarga Yakub pindah ke Mesir karena di Mesir ada Yusuf, yaitu anak Yakub yang dijual oleh saudara-saudara Yusuf. Yusuf pada waktu itu menjadi penguasa di Mesir. Di Mesir inilah kemudian bangsa Israel menjadi bertambah banyak. Ketika Yusuf meninggal dan raja Mesir yang baru tidak “mengenal” Yusuf, mulailah bangsa Israel ditindas oleh orang Mesir.

Bangsa Israel
Bangsa Israel melambangkan orang berdosa, yang mengalami tiga macam pemrosesan di dalam kehidupan ini, yaitu:
1. Diperbudak 2. Diselamatkan 3. Dipisahkan


Diperbudak
Tanpa kita sadari banyak di antara kita yang menjadi budak pekerjaan kita seperti halnya bangsa Israel yang diperbudak oleh Firaun menjadi pekerja rodi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat (Keluaran 1:11-14). Penindasan oleh Firaun bukan hanya sebatas pemaksaan untuk bekerja keras membuat batu bata bagi pendirian kota-kota perbekalan Firaun, namun sampai kepada pemerkosaan hak untuk hidup, yaitu dengan membantai semua anak laki-laki. Tujuan dari penindasan ini jelas, yaitu:
• Agar bangsa Israel tidak bertambah banyak atau berkembang (Keluaran 1:10). Dengan kesibukan kita di dalam berbagai pekerjaan, kita tidak akan berkembang, baik secara rohani, maupun secara kuantitas sebagai gereja Tuhan. Kita dipaksa untuk melupakan Tuhan dengan dijejali pekerjaan yang banyak.
• Agar hidup bangsa Israel menjadi pahit (kel 1:14). Kerasnya hidup yang kita rasakan karena harus terus bekerja siang dan malam dan setiap hari, dapat membuat hati kita menjadi pahit: ada rasa kecewa terhadap Tuhan, tawar hati, jenuh, capek dll. Akhirnya kita tidak peduli dan tidak dapat menjadi garam dan terang dunia seperti yang Tuhan inginkan.
Marilah kita mengintrospeksi kehidupan kita saat ini, adakah kita secara pribadi masih berada di dalam penindasan atau perbudakan sesuatu hal yang membuat hidup kita menjadi penuh dengan kepahitan dan tidak bertumbuh sebagai orang Kristen secara wajar sehingga tidak dapat menjadi garam dan terang dunia bagi lingkungan kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar